jump to navigation

Surat Al-Fiil

Posted By Gus Mad  –  30 Oktober 2009   @ 23.00 WIB.

Beribadah pada Allah seharusnya dilakukan sebagai sebuah kebutuhan daripada sebagai sebuah keharusan. Ini hanya dapat dicapai bila kita selalu menempatkan ibadah kita sebagai rasa syukur atas semua nikmat Allah yang telah kita terima.
Setiap langkah yang kita jalani dalam hidup adalah merupakan prekondisi dari kenikmatan berikutnya. Misalnya:

1) Setelah perjalanan jauh kemudian kite beristirahat, maka ini adalah sebuah kenikmatan dari Allah;

2) Setelah lama menahan lapar kemudian bertemu dengan makanan yang kita santap adalah merupakan kenikmatan dari Allah;

3) Bahkan langkah kita ke lavatory juga merupakan kenikmatan dari Allah.
Bisakah kita semua hidup tanpa semua kenikmatan tersebut? Jadi pada dasarnya, setiap langkah adalah merupakan prekondisi dari kenikmatan-kenikmatan Allah berikutnya.

Kata taqdir berasal dari qadara yang bermakna: semua proses yang dilakukan Allah melalui sistem internal dari seluruh alam semesta. Inilah yang dinamakan sunnatullah. Sedangkan qadha merupakan bagian dari taqdir ini, dan biasa disebut nasib. Ini adalah suatu momen pada saat mana sebuah peristiwa terjadi. Kita mungkin akan mampu merubahnya untuk saat yang lain (misalnya yang tadinya bodoh, dengan belajar menjadi pandai), tapi kita tidak dapat merubahnya pada saat yang terdahulu pada sata kejadian tersebut terjadi. Namun dalam kondisi apapun (baik maupun buruk), kita tetap diminta untuk mengagungkan Allah: falakal hamdu ‘ala ma qadhaifi (hanya kepada-Mu segala pujian atas segala sesuatu).

Surat Al-Fiil diturunkan setelah diturunkannya ayat: waylun likulli humazatin lumazah dan setelah ayat: liila fi quraisyin.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ

1) Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah
Kata تَرَ berasal dari رَأَيْ. Sebetulnya huruf ya di sini tanpa titik dua karena ini adalah huruf alif. Huruf يْ ini hilang karena ada kata أَلَمْ. Kata أَصْحَابِ yang dapat berubah menjadi shohib berarti pemilik/penduduk atau teman.

أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ

2) Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?
Kata كَيْدَ bermakna agenda tersembunyi. Karena tujuan utama penghancuran Ka’bah oleh gubernur Abrahah adalah sebetulnya untuk menguasai Jazirah Arab yang telah lama menjadi daerah tak bertuan dan menjadi rebutan antara kekuasaan kerajaan Persia dan Roma.

وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْراً أَبَابِيلَ

3) dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong,
Kata أَرْسَلَ berasal dari kata rosula dan mursilun yang berarti pesuruh (Inggris: messenger). Kata طَيْر berarti burung, sedangkan kata أَبَابِيلَ berarti berbondong-bondong (Inggris: in flock).
Kata benda/obyek dalam sebuah kalimat bahasa Arab yang ditempatkan di bagian akhir kalimat sudah umum dalam tata-bahasa Arab. Misalnya kalimat yang secara logika bahasa Indonesia seharusnya berbunyi: innallaha qodirun ‘ala syai berubah menjadi innallaha ‘ala kulli syai’in qodir (sesungguhnya kehendak/takdir Allah meliputi segala sesuatu).

تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ

4) yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,

فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ

5) lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: