jump to navigation

Meninggalkan Jilbab

Posted By Gus Mad  –  05 Oktober 2009   @ 23.00 WIB.

BILA MUSLIMAH MENANGGALKAN JILBAB

Pembacaan ulang teks agama

“Hai Nabi, Katakanlah pada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri orang-orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya. Yang demikian itu agar mereka mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu, dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab 33:59)

Merupakan hal yang sangat lumrah pada zaman sekarang bila para perempuan tampil didepan publik tanpa menggunakan jilbab atau penutup rambut, mereka tidak memakainya bukan berarti berniat melanggar syariah atau aturan agama dengan membuka aurat. Memang menurut konsep fikih, rambut wanita adalah bagian dari aurat yang harus selalu ditutup bila berada didepan orang yang bukan mahromnya (bukan keluarganya).

Keberadaan mereka didepan publik seperti menjadi pembaca berita Televisi, sebagai Presenter atau Host, acting dalam sebuah film atau sinetron, bahkan aktivitas sebagai pekerja perusahaan atau menjadi buruh pabrik, begitu juga bekerja di ladang pun mereka sangat kerepotan dan kadang canggung untuk memakai jilbab, atau bahkan sudah menjadi kebiasaan untuk tidak menggunakan jilbab, mungkin juga hanya sekedar toleransi dengan lingkungan yang kebanyakan tidak berjilbab.

Gaya dan perilaku ke-tidak jilbab-an tersebut, sekilas memang ada pelanggaran atas ayat di atas, namun sebetulnya teks tersebut dimaksudkan “hanya” untuk memberikan legitimasi identitas kaum muslimah yang merdeka untuk tampil beda dibandingkan dengan perempuan budak, sehingga tidak menjadi obyek pelecehan seksual oleh para lelaki dimasa itu.

Jadi bukan menjustifikasi kewajiban berjilbab, namun bertujuan yang demikian itu agar mereka mudah dikenal (dzaalika adna an yu’rofna).

Sedangkan firman Allah dalam QS An Nur 24:31 “dan jangan lah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak” terjadi silang pendapat dikalangan mufassirin dalam memahami makna kalimat “illa ma dhoharo minha” (kecuali yang biasa nampak) beberapa penafsir menyampaikan maksudnya adalah lengan atau setengah lengan, dan juga setengah betis, (pendapat dari Sufyan Tsaury, Ibrohim al Nakho’i, Al Thobary, Ibnu Abbas, Miswar bin Makhromah dan lainnya).

Para ahli fikih menyatakan bahwa rambut wanita termasuk aurat berdasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (4:62) dari Aisyah istri Rasulullah SAW yang bercerita sewaktu Asma binti Abu Bakar bertandang kerumahnya, dengan mengenakan pakaian tipis, maka Rasulullah langsung berpaling seraya mengatakan :”Hai Asma, bila wanita telah mencapai usia menstruasi maka tidak boleh terlihat (badannya) kecuali ini dan ini”

Rasulullah menunjuk pada wajah dan kedua telapak tangannya. Abu Dawud sebagai periwayatnya menyatakan hadis ini termasuk mursal (munqothi dalam istilah ilmu hadis) yang dilakukan oleh kholid (tidak bertemu) dari Aisyah, dan salah seorang periwayatnya lemah, berarti hadis tersebut adalah Dloif (lemah).

Pada zaman Rasulullah SAW, pergaulan lelaki dan wanita adalah bebas tidak tersekat pemisah-pemisah dengan batas yang kadang mendiskriditkan sebagian dari yang lain. Mereka melakukan berbagai aktivitas dengan tindakan dan kewajiban yang sama dan dilakukan secara bersama-sama pada tempat yang satu, seperti pelaksanaan sholat jamaah, manasik Haji, begitupula pelaksanaan wudlu, diceritakan oleh Al Bukhori dalam kitabnya Shohih Bukhori dari Abdullah ibn Umar (1:82:190) “para lelaki dan wanita pada zaman Rasulullah berwudhu secara bersama-sama” dan diriwayatkan Al Hakim dalam Al Mustadrok 1:266:577: “dari Ibnu Umar berkata: kita lelaki dan perempuan mengambil air wudhu dan membasuh tangan bersama-sama ditempat yang satu pada zaman Rasulullah”

Mungkin hadist seperti ini agak janggal didengar oleh para periwayat hadist, dan untuk menghilangkan keraguan mereka atas cerita tersebut mereka menanyakan kepada Imam Malik (periwayat ke dua setelah Ibnu Umar): lelaki dan perempuan jadi satu? Di jawabnya : Ya. Ditanyakan pula : Terjadi di zaman Rasulullah? Di jawab pula : Ya.
(Musnad Ahmad 2:113:5928).

Dalam kegiatan berwudlu, wanita tidak mungkin sambil mengenakan jilbab, bahkan anggota badan yang perlu dibasuh ketika berwudlu harus terbuka. Kondisi seperti ini berlangsung sampai pemerintahan Umar ibn Khathab, sewaktu beliau mendatangi kolam air yang di gunakan sebagai tempat wudlu lelaki dan perempuan secara bersama-sama, Umar memukuli mereka dengan tongkatnya sambil memerintahkan pemilik kolam tersebut untuk membuat terpisah antara lelaki dan perempuan.

Sewaktu umar menceritakan peristiwa tersebut kepada Ali ibn Abi Thalib sambil minta pendapatnya dengan bangga mengatakan : apa pendapatmu? Dengan sinis Ali menjawab : “engkau hanyalah seorang pemimpin (bukan pengatur agama atau Musyri’), bila engkau memukuli mereka, maka engkau akan hancur dan menghancurkan mereka”
(Mushonnaf Abdur Rozaq 1:75:244)

Pendapat Ali ini menunjukkan penolakan atas aturan Umar yang berbau Bid’ah, karena pada zaman Rasulullah tidak dilakukan pemisahan tempat wudhu bagi lelaki dan perempuan, apa lagi disertai dengan ancaman hukuman yang cukup berat yaitu dengan memberlakukan hukum cambuk bagi pelanggarnya.

Dalam hal pakaian seseorang, kita bisa memperhatikan firman Allah (QS. Al A’raf 7:26) “Hai anak-anak adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian yang menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa (yang selalu menjadikan takwa kepada Allah) itulah yang paling baik” dengan demikian pakaian yang dikehendaki dalam Islam yang bila dikenakan bisa mewujudkan “Kehormatan” dalam masyarakat, ( bukan menjadikan celaan dan cemoohan), bagaimanapun mode dan desainnya. Begitu pula pakaian tersebut mampu membendung pelbagai pelecehan seksual, dan rangsangan serta membangkitkan libido lawan jenis, yang akhirnya dapat menimbulkan petaka bagi yang memakai maupun yang melihat.

Iklan

Komentar»

1. Misbakhul Munir - 8 Oktober 2009

Assalamu’alaikum Wr Wb
Bissmillahirrahmaanirrahiim
Segala Kebenaran Hanya Milik Allah
Terus terang saya baru mengetahui hal tersebut, kalau pada masa Nabi Muhammad SAW, antara laki-laki dan perempuan mereka berwudlu bersama dan di tempat yang sama, dan kalau dilihat dari apa yang Ustadz paparkan memang tampak jelas sekali bahwa tempat berwudlu untuk laki-laki dan perempuan memang satu tempat, yang sehingga mereka bisa melihat batasan-batasan anggota wudlu ketika mereka berwudlu bersama.
Namun seandainya saya disuruh memilih antara dua wanita yang satu berkurudung dalam kesehariannya dengan wanita yang tidak memakai kerudung dalam kesehariaanya, maka saya akan memilih wanita yang memakai kerudung dalam kesehariannya. Dan apabila saya disuruh memilih wanita yang memakai kerudung dalam kesehariannya denga wanita yang memakai kerudung ditambah lagi cadar hingga yang terlihat hanya matanya saja dalam kesehariannya, maka saya tetap pilih wanita yang memakai kerudung saja kesehariannya.

Wassalamu’alaikum Wr Wb

2. khoeru Sholeh, SH - 13 Oktober 2009

Bila Muslimah menanggalkan Jilbab, membaca judul ini saya jadi teringat pemikiran Ulil Abshar Abdallah dimana bahwa Jilbab atau hijab seakan-akan suatu budaya orang Arab sehingga memakai atau tidak bukanlah suatu keharusan dan kutipan pada firman Allah (QS. Al A’raf 7:26) “Hai anak-anak adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian yang menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa (yang selalu menjadikan takwa kepada Allah) itulah yang paling baik” kalo dipahami secara mendalam betul juga, apalagi negara kita yg Tropis ( Cukup Sangat Panas ) dimana Rakyatnya jarang yg mempunyai AC sehingga terkadang Wanita yg berjilbab kepanasan ( Maklum Jilbabnya dari bahan yg murahan ) tapi pada dasarnya kaum adam ( Mayoritas ) bila memandang wanita berjilbab malah berdecak kagum, malah ada desiran nafsu yg seakan-akan menelanjangi kaum hawa, jadi intinya Jilbab atau tiada Jilbab bagi kaum adam sama saja, bila otak yg ada dlm fikiran kita kotor biar ditutup cadar sekalipun tetaplah kotor dan ini dialami oleh saya dan teman-teman saya mayoritas sewaktu jadi muqimin di Jeddah, dan yg lebih membahayakan lagi adalah banyak sekali wanita berjilbab yg mengotori Jilbabnya sebagai Identitas Muslimah dgn melakukan perbuatan tercela misal Mojok, bahkan melakukan hubungan diluar nikah dgn diabadikan dikamera video atau hp, dari saya top markotop buat Pak Ustadz….
From : Khaeru Sholeh, SH.
Kramat – Tegal

3. Muhammmad Ja'far, Tegal - 15 Oktober 2009

Saya teringat pertama kali ketika saya bersentuhan dengan apa yang oleh orang pesantren katakan sebagai ” pemikiran luar ” Islam. Inilah kira-kira kesan pertama saya ketika membaca tulisan di atas. Kaget, penasaran dan menyenangkan yang akhirnya justeru mengobarkan rasa ke-ingin tahu-an saya tentang apa yang sebenarnya ingin diungkap oleh tulisan tersebut.

Saya melihat apa yang dipaparkan oleh Ustadz adalah sebagai bentuk upaya “mendobrak” pemahaman dan budaya Islam khususnya yang terkait dengan kehidupan perempuan, yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya kebenaran agama. Memang selama ini ada semacam “konsensus” di masyarakat kita yang mengatakan bahwa saudara kita makhluk yang bernama perempuan ini adalah hanya sekedar pelengkap di dalam kehidupan ini. Tugas perempuan kalau orang Jawa bilang, hanya berkisar pada dapur, sumur dan kasur. Bahkan yang lebih ekstrim lagi ada yang mengatakan, bahwa perempuan diciptakan berfungsi hanya untuk melahirkan bayi laki-laki. Hak-hak mereka tentu saja berbeda jauh dengan hak laki-laki atau bisa dikatakan, perempuan terjajah dalam kehidupannya sendiri.

Suatu hal yang sangat menyedihkan adalah ternyata pemahaman semacam ini tidak hanya didukung oleh sebagian besar kaum laki-laki saja, tetapi banyak dari kaum perempuan pun meng-iya-kan dan mempertahankan keterbelengguan ini. Bagi mereka yang sepaham dengan pendapat ini, penafsiran tentang perempuan sebagai mana yang dipahami selama ini merupakan hasil final atas istimbat mereka terhadap teks-teks keagamaan.

Nah, apa yang dilakukan oleh Pak Ustadz menurut saya merupakan upaya bentuk ikhtiar keagamaan dalam mencoba menafsirkan ulang tentang hak dan kewajiban perempuan di dalam Islam. Yang cukup menarik adalah, beliau mencoba menggali kembali tradisi-tradisi keagamaan yang masih tersembunyi dan belum terungkap secara umum di dalam masyarakat kita, dan itu murni diambil dari Al-qur’an dan Hadits suatu hal yang menurut saya “asing” di dalam tradisi pesantren. Ikhtiar menggali kembali teks-teks induk keagamaan ( Al-Quran dan Hdits ) untuk “disesuaikan” dengan kehidupan modern bagi saya lebih tepat ketimbang kita merujuk pada paham Barat Modern dalam hal ini tentang emansipasi wanita misalnya.
Harapan saya adalah, tulisan Ustadz tidak hanya sekedar wacana, tetapi merupakan ikhtiar yang benar-benar bisa digunakan sebagai rujukan kita dalam memahami kehidupan perempuan. Namun tentunya, pendapat ini akan berhadapan dengan tradisi pesantren kita yang dalam hal memahami agama harus melewati pintu madzhab. Saya tidak tahu dari madzhab mana Ustadz memaparkan pendapatnya. Dan tentunya ini sebuah tantangan, khususnya dari tradisi pesantren yang notabene adalah sebagian besar masyarakat Indonesia……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: