jump to navigation

Kasih Islami 2

Posted By Gus Mad  –  02 November 2009   @ 21.45 WIB.

By : Naily Nikhla Aziz

Sepekan berlalu begitu cepat, saatnya acara camping pun tiba, aku cukup mengepak keperluan selama di tujuan. Semua bekal sudah masuk ke ransel kesayanganku. Apa yang tertinggal? Coba kuingat-ingat… oh ya diari mungil berwarna ungu adalah teman pengantar tidur jika kegiatan-kegiatan yang aku gemari usai kujalani. Tempat menuangkan segalanya, yang indah, asyik, menyenangkan, bahkan yang paling menyebalkan sekalipun.

Pergi bersama-sama teman di kampus khususnya kelas bahasa semester satu, memang beda jauh saat aku di Aliyah dulu! Betapa tidak? Sekelas Aliyah dahulu yang semuanya cewek tak ada yang istimewa, kecuali hanya rasa senang ketika bercamping. Kini… makhluk tampan yang pernah menawari tumpangan aku turut serta dalam acara ini. Dia tampak lebih rapi dengan tatanan rambut Elvis Presley, Subhaanallah…
Tiba-tiba … hei kamu disini ya? Kelompok mana? Kujawab: Bougenville. Oh yang sebagian besar cantik-cantik itu khan? Balasnya dengan senyum.” Ada ada saja kamu! Jangan suka memuji ah!” kataku. Jawabnya: “Aku tidak memuji, kenyataanya memang seperti itu kok! Termasuk kamu salah satunya! Oh ya Kenalin namaku Yusuf, Ahmad Yusuf pemuda tertampan dikampus ini, kamu siapa? Spontan dengan sedikit malu kuulurkan tanganku karena dia mengajakku berjabat tangan… Luthfia Nur Mahira. “Wow nama yang cantik! Secantik orangnya!” Aku lebih gugup. Tetapi dengan ramah dia segera menyadarkan kegugupanku dengan mengatakan: Luth… kini time makan malam kan?! Yuk kita membaur dengan yang lain.

Makan bersama
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ رَأَى أَبُو طَلْحَةَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مُضْطَجِعًا فِى الْمَسْجِدِ يَتَقَلَّبُ ظَهْرًا لِبَطْنٍ فَأَتَى أُمَّ

سُلَيْمٍ فَقَالَ إِنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مُضْطَجِعًا فِى الْمَسْجِدِ يَتَقَلَّبُ ظَهْرًا لِبَطْنٍ وَأَظُنُّهُ جَائِعًا. وَسَاقَ

الْحَدِيثَ وَقَالَ فِيهِ ثُمَّ أَكَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبُو طَلْحَةَ وَأُمُّ سُلَيْمٍ وَأَنَسُ بْنُ مَالِكٍ وَفَضَلَتْ فَضْلَةٌ فَأَهْدَيْنَاهُ

لِجِيرَانِنَا
(صحيح مسلم – ج 13 / ص 418)

Dari anas ibn malik berkata: Abu tholhah melihat Rasululllah SAW tiduran di masjid dengan membolak balikkan antara perut dan punggung, kemudian dia mendatangi isterinya ummi sulaim seraya berkata: saya melihat Rasululllah SAW tiduran di masjid …  seterusnya. Anas berkata: kemudian Rasululllah SAW makan bersama Abu Tholhah, Ummu Sulaim dan Anas ibn Malik, dan makananyapun ada kelebihan yang kami hadiahkan ke tetangga kami. (HR Muslim 13:418)

Bepergian tanpa muhrim

قَالَ « فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَيُتِمَّنَّ اللَّهُ هَذَا الأَمْرَ حَتَّى تَخْرُجَ الظَّعِينَةُ مِنَ الْحِيرَةِ حَتَّى تَطُوفَ بِالْبَيْتِ فِى غَيْرِ جِوَارِ أَحَدٍ وَلَيَفْتَحَنَّ كُنُوزَ كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ »

Rasululllah SAW bersabda: “sesungguhny Allah akan menyempurnakan agama ini sehingga seorang perempuan pergi dari al Hiyaroh (Madinah) ke Makkah untuk thowaf di Ka’bah tanpa ada pengawal seorangpun” ( HR Ahmad 39:392)

Kami menikmati acara makan bersama di hari perdana acara camping dengan sukaria. Menu sederhana tidak mengurangi selera makan kami. Meski hawa dingin mulai terasa disekujur tubuh. Yusuf mendekatiku dengan pelan ia membisikkan kata-kata dekat telingaku: “Kamu kedinginan? Tak perlu risau sebentar lagi api unggun akan dinyalakan”. Udara dingin di kawasan “Hutan Penggaron” menjelang malam makin menambah bulu roma berdiri.

Selang beberapa menit kemudian api unggun telah menyala, lamat-lamat hawa sejuk mulai tidak terasa sepertinya… kami mulai tak merasakan kedinginan.

Kami bernyanyi dan menari, karena belum terbiasa dengan tarian… aku mencoba untuk menggoyangkan badanku mengikuti alunan musik yang diputar temanku. Ada yang memperhatikanku rupanya. Ya! Siapa lagi kalau bukan Yusuf! Aku tersenyum malu dilihatnya. Tanpa kusadari dia telah berada didekatku lagi setelah tadi menyalakan api unggun yang ke tiga.

Menyanyi dan menari
Menyanyi dan menari adalah gaya hidup Rasululllah SAW bila merayakan hari-hari bahagia
عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِعَائِشَةَ « أَهْدَيْتُمُ الْجَارِيَةَ إِلَى بَيْتِهَا ». قَالَتْ نَعَمْ. قَالَ « فَهَلاَّ بَعَثْتُمْ

مَعَهَا مَنْ يُغَنِّيهِمْ يَقُولُ أَتَيْنَاكُمْ أتَيْنَاكُمْ فَحَيُّونَا نُحَيَّاكُمْ فَإِنَّ الأَنْصَارَ قَوْمٌ فِيهِمْ غَزَلٌ

Dari Jabir berkata, bersabda Rasululllah SAW kepada Aisyah (dihari pernikahan pembantunya) sudahkah kamu kirim hadiah untuknya sayang? Aisyah menjawab: Sudah, beliau berkata pula: Lebih baik kalian kirim biduan untuk bernyanyi, Atainakum… atainakum… karena orang Anshor (madinah) lebih senang dengan seni. ( HR Ahmad: 32:134)
وكان يوم عيد يلعب السودان بالدرق والحراب فإما سألت النبي صلى الله عليه و سلم وإما قال (تشتهين تنظرين) . فقلت

نعم فأقامني وراءه خدي على خده وهو يقول (دونكم يا بني أرفدة). حتى إذا مللت قال (حسبك) . قلت نعم قال: فاذهبي

Dari Aisyah berkata: Di suatu hari raya, orang orang-negro bermain dan menari dengan tombak dan perisai (di masjid) Rasululllah SAW mengajak aku untuk menonton, ku jawab: Ok sayang. Beliau menempatkan (menggendong) aku di belakang punggungnya. aku mendekapnya sehingga pipiku menempel di pipinya, beliau mensupport para penari “terus… teruskan hai Bani Arfidah” setelah aku jenuh aku minta izin untuk meninggalkan tontonan. (HR Bukhari 1:323)

عن ابن عباس قال : مر رسول الله صلى الله عليه وسلم بحسان ومعه أصحابه سماطين وجارية له يقال لها سيرين

تختلف بين السماطين وهي تغنيهم فلم يامرهم ولم ينههم ( أسد الغابة ) – ( ج 1 / ص 1379

Dari Ibn Abbas berkata: Rasululllah SAW lewat didepan Hisan (ibn Tsabit) dan para sahabatnya, disitu sedang menikmati lantunan suara biduan bernama “Sirin” sambil putar-putar di depan mereka, sedang Rasululllah SAW membiarkanya” (Usdul Ghobah 1:1379)

Kamu mau menari lagi bersamaku kan? Ajakannya tidak kutolak… hanya sebatas goyang-goyang badan seperti yang lain…
Kami nikmati lantunan lagu “kopi Dangdut” dengan asyik. Semua bersenang senang dengan nyanyian dan tarian dengan lantunan-lantunan lagu yang merdu hingga saatnya tidur.

Keesokan harinya, pemimpin regu mengumumkan lewat megaphone “Seperempat jam lagi kontingen orasi harap mendaftarkan diri kepada panitia karena acara segera dimulai. Masing-masing kelompok mengirimkan satu delegasi yang betul-betul mumpuni. Demikian harap dimaklumi. Keterlambatan waktu mendaftar dianggap gugur dan akan dikenai hukuman”.

Tak berapa lama kontingen orasi dari berbagai kelompok sudah siap duduk bersila dihadapan seluruh panitia orasi. “Rekan-rekan yang tercinta, saksikanlah orasi teman-teman perempuan perkasa kita… Susi dari kelompok Teratai, Aini dari kelompok Melati, Fatimah dari kelompok Anyelir, dan… Luthfia dari kelompok Bougenfille.

Satu persatu sudah menyampaikan orasinya, kini tiba giliranku, aku mencoba untuk tampil beda dengan menyelipkan hasil ketika aku di pesantren dulu! Dengan gaya yang sedikit Islami memang membuat pendengar terpukau! Apalagi dengan kesantunan serta kesederhanaanku mereka terpikat, dengan tema yang kuangkat “wanita muslimah di Era globalisasi”

Yang intinya … meskipun zaman telah modern seorang wanita muslim harus tetap muslimah bukan berarti ketinggalan zaman.

Wanita berorasi di depan publik
أسماء بنت يزيد الأنصارية من بني عبد الأشهل أنها أتت النبي صلى الله عليه وسلم وهو بين أصحابه فقالت: بأبي وأمي أنت يا رسول الله. أنا وافدة النساء إليك إن الله عز وجل بعثك إلى الرجال والنساء كافة فامنا بك وبإلاهك…. أفما نشارككم في هذا الأجر والخير؟ فالتفت النبي صلى الله عليه وسلم إلى أصحابه بوجهه كله ثم قال : هل سمعتم مقالة امرأة قط أحسن من مساءلتها في أمر دينها من هذه؟ فقالوا: يا رسول الله ما ظننا أن امرأة تهتدي إلى مثل هذا . فالتفت النبي صلى الله عليه وسلم إليها فقال: “افهمي أيتها المرأة وأعلمي من خلفك من النساء…. الحديث

Diceritakan: bahwa Asma binti Yazid al Anshoriyyah datang kepada Nabi SAW yang sedang ada diantara para sahabatnya, dia berkata: demi bapak dan ibuku, kamu wahai Rasululllah, saya adalah delegasi para wanita datang padamu, sesungguhnya Allah SWT mengutus engkau kepada lelaki dan wanita keseluruhan, kami beriman kepadamu dan tuhan kamu…. Dst. “Bisakah kami bersama mereka secara sama-sama memperoleh pahala dan kebaikan yang sama? Nabi SAW berpaling kepada para sahabat seraya mengatakan: pernahkah kalian mendengar tuntutan wanita tentang emansipasi seindah yang ia sampaikan? Mereka menjawab: kami tidak mengira ada perempuan yang mendapat pencerahan seperti dia” maka Nabi SAW menghadap kepadanya sambil menyampaikan: pahamilah wahai perempuan, dan sampaikan kepada mereka yang ada di belakangmu (generasi setelahmu) ……. Dst” (Usdul Ghobah 1: 1313)

Usai orasiku, lantunan lagu-lagu diperdengarkan untuk menunggu hasil penentuan siapa pemenangnya. Juara pertama dengan nilai 700 dimenangkan oleh Luthfia … Terkejut bukan main, dan kedua karena kegirangan aku memeluk orang yang ada didekatku, dan kebetulan sekali adalah Yusuf, tersadar siapa yang kupeluk… segera kulepas pelukanku. Yusuf sepertinya menikmati pelukanku. Karena dia mengatakan dengan pelan: “mengapa kau lepaskan cantik? Bukankah itu menyenangkan hatimu?
Sambil mengulurkan tangan kearahku ia menarik tanganku kujabat erat genggamannya sambil tangan kirinya mengelus-elus bahu kananku. Selamat Luthfia.. kamu pantas meraih gelar juara, karena disamping orasi kamu bagus, kamu memang gadis yang berbekal iman dan taqwa. Aku salut kepadamu, jarang kujumpai gadis sepertimu, satu diantara seribu, puji yusuf untukku.

Ucapan selamatnya kubalas dengan lirih “terima kasih Yusuf, kamu adalah teman yang menyenangkan”.

Wanita imam sholat
Karena aku telah mengangkat tema yang cukup menarik dan dikukuhkan sebagai juara dalam orasi, dan statusku yang alumni pesantren, aku didaulat untuk menjadi imam dalam sholat dhuhur di bumi perkemahan itu, diikuti oleh seluruh peserta baik lelaki maupun perempuan.

قَالَ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَزُورُهَا فِى بَيْتِهَا وَجَعَلَ لَهَا مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ لَهَا وَأَمَرَهَا أَنْ تَؤُمَّ أَهْلَ دَارِهَا.

Diceritakan: bahwa Rasululllah SAW berkunjung ke rumah Ummu Waroqoh, sambil mengangkat seorang lelaki yang untuk adzan, memerintahkan kepada Ummu Waroqoh untuk meng-imami semua penhuni rumah. (HR Abu Dawud 2:300)

Selama perjalanan pulang, rombongan camping membaur jadi satu, di dalam bus, Yusuf duduk disampingku, ia pun mengajak ku bercakap-cakap: aku tidak ingin hanya sekedar teman Luthfia… aku ingin lebih dari itu… maukah kau jadi teman khusus dihatiku…? Sejenak aku terpana… Aku berpikir… Ayolah Luthfia… mau, khan?

Tak kusadari kuanggukkan kepalaku tanda persetujuanku, tanganku pun dipegangnya serta diciuminya seperti aku dulu selalu menciumi tangan Ibunyai di pesantren.

To be continued……….

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: