jump to navigation

Kasih Islami 1

Posted By Gus Mad  –  19 Oktober 2009   @ 22.30 WIB.

By: Naily Nikhla Aziz
Selepas menyelesaikan pendidikan di pesantren dengan menyandang status alumni Madrasah Aliyah jurusan Keagamaan, aku melanjutkan studi di sebuah perguruan tinggi negeri di kota Semarang.

Atmosfir baru sangat terasa bagiku, aku telah terbiasa dengan pelajaran yang disampaikan para ustadz secara doctrinal dengan ketat, kini beda sekali, aku bebas berpendapat asal alasan yang kupegang bisa kupertanggung jawabkan.

Memang, aku selalu berpegang pada dasar-dasar agama dalam setiap langkah yang kuambil, seperti saat aku pulang kuliah, aku dihampiri teman pria dengan motornya mengajakku untuk pulang bersama, maka aku terima ajakan itu karena hari sudah terik, naik angkot akan memeras keringat dan berjubel penumpang serta bau yang kurang sedap ditambah lagi asap rokok yang menyebar yang makin membuat kesal di perjalanan. Lumayan kan ada yang ngasih tumpangan.

Berbocengan dalam kendaraan
Aku tersentak kaget oleh suara teman yang sejak tadi melihat aku ngelamun, dia mengatakan: “Biasanya alumni pesantren selalu menolak bila dibonceng oleh bukan muhrim” begitu dia menyindirku saat aku terima tawaran untuk membonceng.
Dengan halus aku sampaikan sebuah hadits yang pernah kuterima dari ustadzku dulu ketika di pesantren:

عن أسماء: فَجِئْتُ يَوْمًا وَالنَّوَى عَلَى رَأْسِى فَلَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَمَعَهُ نَفَرٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَدَعَانِى ثُمَّ قَالَ « إِخْ إِخْ » . لِيَحْمِلَنِى خَلْفَهُ ، فَاسْتَحْيَيْتُ أَنْ أَسِيرَ مَعَ الرِّجَالِ ، وَذَكَرْتُ الزُّبَيْرَ وَغَيْرَتَهُ ، وَكَانَ أَغْيَرَ النَّاسِ ، فَعَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنِّى قَدِ اسْتَحْيَيْتُ فَمَضَى ، فَجِئْتُ الزُّبَيْرَ فَقُلْتُ لَقِيَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَعَلَى رَأْسِى النَّوَى ، وَمَعَهُ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِهِ ، فَأَنَاخَ لأَرْكَبَ ، فَاسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ وَعَرَفْتُ غَيْرَتَكَ . فَقَالَ وَاللَّهِ لَحَمْلُكِ النَّوَى كَانَ أَشَدَّ عَلَىَّ مِنْ رُكُوبِكِ مَعَهُ
( صحيح البخارى – ج 17 / ص 353

Asma binti Abi Bakar bercerita: “Ketika saya mengangkut di atas kepalaku biji bijian hasil panenan di ladang Zubair ibn al Awwam (suaminya )-yang berjarak dua pertiga farsakh-, bertemu dengan Rasululllah SAW bersama para sahabatnya, beliau memanggilku dan memberi isyarat agar aku naik kendaraannya di belakang, aku malu ikut rombongan bersamanya, juga aku menjaga rasa cemburu suamiku zubair, maka kubiarkan mereka lewat.
Ketika aku bertemu zubair aku ceritakan bahwa tadi aku bertemu Rasululllah SAW bersama sahabatnya, beliau menghentikan kendaraannya agar aku ikut dengannya, tapi aku menolak karena aku malu dan menjaga perasaan cemburu kamu. Zubair berkata: Demi Allah, kamu mengusung biji- bijian itu lebih berat dihatiku dibanding dengan kalau kamu naik bersama mereka”.(HR Bukhari 17:352)

Dalam hadits ini diceritakan bahwa Rasululllah SAW akan memberi tumpangan kepada Asma binti Abi Bakar agar diboncengkannya, tetapi Asma menolak karena malu dengan rombongan yang semuanya para lelaki. Dari cerita Asma itu, berboncengan dengan kendaraan walaupun bukan muhrimnya tidak dilarang oleh Rasululllah SAW .

Sebelum sampai di tempat kost aku membisikkan kata- kata: “Mas tolong mampir ke resto dulu ya, perutku dah keroncongan dan tenggorokanku kering, tadi kuliahnya padat, ga’ sempat ke kantin”
Dengan senang mendapat angin surga dibantingnya setir motor masuk ke halaman resto, dituntunnya tanganku bak seperti menuntun orang buta, dipegang erat-erat, seperti takut lepas, ku biarkan pula tangan ini untuk dipegangi, karena tangan Rasululllah SAW ketika dipegang seorang perempuan juga dibiarkan sampai lama.

Jabat tangan bukan muhrim
Dalam sebuah hadits diceritakan:

حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ كَانَتِ الأَمَةُ مِنْ إِمَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَتَأْخُذُ بِيَدِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَتَنْطَلِقُ بِهِ حَيْثُ شَاءَت

(صحيح البخارى – ج 20 / ص 217)

Diceritakan oleh sahabat Anas ibn Malik berkata: ada seorang perempuan Madinah memegang tangan Rasululllah SAW dan menggandengnya kemana mana dia mau. (HR Bukhari 2:217)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ إِنْ كَانَتِ الأَمَةُ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَتَأْخُذُ بِيَدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَمَا يَنْزِعُ يَدَهُ مِنْ يَدِهَا حَتَّى تَذْهَبَ بِهِ حَيْثُ شَاءَتْ مِنَ الْمَدِينَةِ فِى حَاجَتِهَا
(سنن ابن ماجه – ج 12 / ص 368

Diceritakan oleh sahabat Anas ibn Malik berkata: ada seorang perempuan Madinah memegang tangan Rasululllah SAW dan menggandengnya, Rasulpun tidak menarik untuk melepaskan tanganya dari pegangan tersebut, diajaknya pergi kemana saja dia kehendaki sampai selesai urusannya dikota. (HR Ibnu Majah 12:368)

Kami berdua memilih tempat yang agak sepi dan terlindung dari pandangan orang yang ada di dalam resto tersebut.

Mojok
Hal itu berani kami lakukan karena baginda Rasululllah SAW juga pernah melakukan berduaan dengan orang lain.

عن أَنَسٍ: أَنَّ امْرَأَةً َقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِى إِلَيْكَ حَاجَةً فَقَالَ « يَا أُمَّ فُلاَنٍ انْظُرِى أَىَّ السِّكَكِ شِئْتِ حَتَّى أَقْضِىَ لَكِ حَاجَتَكِ ». فَخَلاَ مَعَهَا فِى بَعْضِ الطُّرُقِ حَتَّى فَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا

صحيح مسلم – ج 15 / ص 303

Dari sahabat Anas ibn Malik: ada seorang wanita mengtakan kepada Rasululllah SAW : Ya Rasulullah, saya ada perlu bantuan dari kamu, jawab beliau: Ibu, kemana saja maumu agar aku bisa bantu kamu? Maka Rasul berduaan bersamanya mengelilingi gang-gang sehingga selesai keperluannya” (HR Muslim 15:303)

Beberapa saat kemudian kami telah berpisah, dan badan terasa penat, aku rebahkan tubuh ini selesai melakukan sholat dhuhur, dan akhirnya aku tertidur.

To be continued……

Komentar»

1. Amin Handoyo Lc, alumni Univ Al Azhar Cairo, Staff di PD Pontren Depag Propinsi Jateng, Pengurus Yayasan Futuhiyyah, tinggal di Mranggen. - 31 Oktober 2009

Tulisannya bagus, akan tetapi saya mohon agar haditsnya dipahami sebagaimana maksud hadits, bukan berdasar keinginan penulis. Hadits tentang nabi pernah mojok dengan seorang perempuan misalnya, ada potongan yang tidak disebutkan, dimana pada awal hadits ada kata

ان امرأة في عقلها شيئ

potongan ini sangat penting, untuk menjelaskan bahwa kondisi itu adalah kondisi pengecualian, bukan kondisi umum. Jadi setiap kaedah itu ada pengecualiannya. akan sangat berbahaya bila sebuah pengecualian menjadi kaedah umum. kalau demikian , maka nanti daging babi bisa menjadi halal. Padahal daging babi menjadi halal itu kan pada saat tertentu.

Naily Nikhla Aziz menjawab ; - 2 November 2009

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada bapak, tentang tulisan saya KASIH ISLAMI 1, dimana disitu ada potongan hadits yang tidak dimasukkan, tidak dimasukkannya hadits tersebut bukan maksud kami memanipulasi hadits Nabi SAW, kami mensitir hadits tersebut dari sumbernya Shahih Bukhari yang bunyi teksnya seperti tertulis dalam kisah tersebut, dan tidak ada tambahan seperti yang bapak maksud.
Kalau bapak merujuk dari kitab Shahih Muslim, memang ada tambahan teks tersebut, namun didalam Syarahnya yang ditulis oleh Imam Yahya ibn Syarof an Nawawi 4/1412 tidak memberi komentar apa-apa pada teks tersebut, bahkan seperti tidak ada arti apa-apa.
Sedang di Syarah Bukhari karya al Hafidl al-Imam Ahmad ibn Ali ibn Hajar al Asqolani 15 /45 hadits tersebut diberi bab dengan bab :

باب ما يجوز أن يخلو الرجل بالمرأة

Sehingga saya memberanikan diri memasukkan hadits tersebut dalam Rasulullah SAW mojok dengan seorang perempuan.
Mohon bimbingannya untuk cerita kami sampai ke seri 3 nantinya.

Wassalamualaikum Wr Wb.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: